Agenda Takbiran di Malioboro Tahun 2017 Yang LUAR BIASA!!!

Luar biasa, itulah komentar kami pada acara malam takbiran idul adhan tahun 1438 H di seputar jalan malioboro hari Ahad 3 September 2017. Kita patut ucapkan rasa terimakasih pada Angkatan Muda Muhammadiyah Yogyakarta yang berhasil menyelenggarakan event akbar di pusat kota Yogyakarta ini. Yang membuat kegiatan ini lebih spesial adalah karena adanya penampilan dari pengajian Al Ghuraba Yogyakarta. Yang berani membawakan tema takbiran yang anti mainstream. Berikut publikasi malam takbiran di Malioboro oleh mereka.

Malioboro Bertakbir

Takbir keliling sebagai bagian dari Syi'ar Islam dalam rangka merayakan Idul Adha 1438 H diselenggarakan oleh Angkatan Muda Muhammadiyah Jogjakarta pada hari Ahad, 3 September 2017.
Acara takbiran ini adalah yang pertama kali diadakan di Malioboro Yogyakarta, dan langsung diikuti oleh ribuan peserta yang tergabung dalam lebih 20  grup, dari kelompok pengajian dan remaja masjid di DIY. Takbiran dibuka oleh Walikota Yogyakarta, Haryadi Suyuti, di depan gedung DPRD I DIY. Takbiran ini harapkan ini menjadi agenda rutin tahunan, sebagai bagian dari dakwah Islam di Kota Pelajar, dan bisa menjadi inspirasi bagi daerah-daerah lain.

Hal yang unik pada acara takbir keliling ini adalah di awali oleh peserta dari Pengajian al-Ghuraba Yogyakarta, yang mengangkat tema METARAM NGGECAK BATAVIA. Menurut Ihsan Abdusyari' Reksonegoro, sebagai penanggung jawab lapangan, pilihan tema ini didasari sebagai wujud dakwah kepada masyarakat jogja pada khususny dan Indonesia pada umumnya, untuk melakukan amar ma'ruf nahi mungkar dengan gagah berani sekalipun berhadapan dengan hambatan, ancaman, dan gangguan, maupun tindakan fisik dari orang-orang kafir-dzalim-fasik, sebagaimana yang telah dicontohkan oleh Sultan Agung ketika menyerang batavia sebanyak dua kali, yaitu 1628 dan 1629, sekalipun tdk berhasil.

Keberanian itu dilambangkan dengan mengangkat bendera tauhid. Kibaran al-Liwa' dan ar-Rayah, bendera yang diperintahkan oleh Rasulullah SAW sebagai bendera persatuan umat Islam, tampak gagah dalam barisan yang rapi dan teratur.

Nampak juga dengan jelas bendera Gulaklapa di bagian depan barisan, utk mengingatkan perjuangan P. Diponegoro di Jawa tahun 1825-1830, bahwa rakyat Jogja adalah pusat kelahiran para pejuang. Reksonegoro berharap segera bangkit kembali para pejuang dari Yogyakarta utk memperjuangkan Islam kaffah dan melawan semua kedzaliman.


Satu hal yang baru adalah adanya bendera hitam bergambar pedang emas yang bertuliskan surat al-Kahfi (18): 1-10, sebagai pengingat umat atas bahaya akhir zaman, fitnah Dajjal. Umat saat ini telah berada di dalam fase akhir mulkan jabariyyan dan kemudian masuk fase baru, yang akan berhadapan langsung dengan kekuatan Dajjal. Bendera ini diberi nama Ki Reksoyudha.

Semarak takbir bersahutan dari mulai jalan Abu Bakar Ali, sepanjang Malioboro,  dan berakhir di alun-alun Utara, tampak ribuan Masyarakat antusias mengikuti acara sambil ikut meneriakkan Takbir. Pusat acara ada d titik nol Kota Yogyakarta dipenuhi masyarakat yang ingin menyaksikan kreativitas dan geliat kaum muda muslim Yogyakarta. Masyarakat duduk denga rapi sampai akhir acara.

Grup selanjutnya menampilkan kemeriahan takbir, dengan berbagai kendaraan hias dan atraksi menarik yang diiringi dengan drumband. Hal ini menunjukkan masih terikatny umat dengan Islam, sekalipun gerusan dari sistem Kapitalisme terus menerus dilakukan.

Habib Muhammad Nahl al-Athas yang nampak berada d dalam barisan pembawa Panji Rasulullah, berharap pesan moral perjuangan ini bisa sampai kepada umat Islam d Nusantara, bahwa umat Islam tdk boleh takut dalam memperjuangkan agamanya.

Urusan kita bersama sekarang adalah bagaimana semangat ini bisa terus menyala, mendampingi proses perubahan masyarakat menuju masyarakat Islam. Juga penting untuk diperhatikan bagaimana proses edukasi kepada umat, agar tidak berhenti di tingkat festival dan karnaval. []

Divisi Publikasi pengajian al-Ghuraba Yogyakarta

0 Response to " Agenda Takbiran di Malioboro Tahun 2017 Yang LUAR BIASA!!! "

Posting Komentar