[ HERAN ] Muslim Jogja Dalam Kepungan Diskotik

Jogja sebagai kota pelajar, agaknya sebutan itu saat ini terlalu muluk. Prestasi pendidikan tetap ada. Banyak pelajar dari Jogja yang meraih award, tidak hanya di dalam negeri bahkan hingga diluar negeri. Namun apakah hal tersebut cukup sebagai tolak ukur kota pelajar? Tulisan ini dibuat bukan untuk membuat buruk citra kota budaya dan kota pelajar, namun lebih sebagai rasa "greget" dan memiliki kota ini. Tulisan ini juga bukan mewakili suara dari kaum muslim di Jogja, hanya pendapat pribadi yang harapannya bisa menjadi perenungan umat Islam di kota ini.

Pemuda adalah tulang punggung peradaban. Perkataan tersebut bukan isapan jempol belaka. Demografi penduduk Indonesia saat ini sebagian besarnya pemuda. Jika pemuda berkualitas dan bertemu dengan ideologi yang benar untuk mengatur kehidupan. Tentu hal tersebut akan menjadikan sebuat peradaban maju melesat. Baik dari sisi kekayaaan pemikiran maupun kekayaan berupa materi.

Besarnya jumlah pemuda itulah yang menjadi sasaran empuk bagi pengusaha untuk meraup pundi-pundi kekayaan. Yang jadi masalah adalah adanya pengusaha yang mengambil keuntungan tanpa memperhatikan hukum syariat. Padahal bisnis bukan hanya soal untung rugi, tapi juga surga dan neraka. Maka tidak mengherankan jika kita melihat tumbuh suburnya usaha ribawifashion untuk remaja putra ataupun putri yang membuka aurat dan yang lainnya. Hal tersebut dikampanyakan masif di baliho-baliho pinggir jalan hingga televisi.

Tak hanya cukup itu saja. Saat ini di kota Gudeg ini, tumbuh subur diskotek-diskotek. Jika dulu orang menikmati miras di rumah-rumah dan diwarung kecil. Saat ini masyarakat mulai "naik kelas", miras dijual dengan harga tinggi dan dengan suasana yang nyaman ala diskotek. Apakah salah hal tersebut? Jika kita memakai kacamata kebebasan, maka hal tersebut tidak dipersoalkan. Saat ini banyak orang terjebak dengan paradigma kebebasan akibat dari diterapkannya sistem Kapitalisme dalam kehidupan. Sehingga wajar jika orang-orang tidak banyak yang mempersoalkan.

Jika kita melihat model bisnis diskotek yang ada, akan tampak bahwa target market mereka adalah para mahasiswa. Darimana kita bisa tahu. Jika kita keliling di jalan-jalan sekitar kampus. Kita akan dengan mudah mendapati baliho-baliho promo diskotek disana. Sekitar UGM, UNY, UPN, Atma Jaya, Sanata Dharma bahkan dekat dengan UIN Sunan Kalijaga pun tak luput dari hal tersebut. Bisa kita simpulkan bahwa generasi kita dirusak secara perlahan dan sistemik. Beberapa tempat dugem di Jogja di antaranya Liquid, Bosche, Republik, Terrace dan masih ada banyak tempat lainnya. Tempat-tempat tersebut bisa berdiri meskipun ada yang tak jauh dari lokasi masjid. Sebuah ironi bagi warga muslim di Jogja. 

Ilustrasi Diskotik via kompasiana.com
Bagaimana sikap kita seharusnya sebagai kaum muslimin, umat dari Baginda Rasulullah Muhammad SAW. Agaknya hadist dari ini bisa menjelaskan secara singkat hukum mengkonsumsi dan menjual minuman keras. Ibnu Abbas berkata bahwa seorang laki-laki menghadiahkan sebuah wadah berisi khamr kepada Rasulullah n. Maka Rasulullah saw berkata: “Tidakkah engkau mengetahui bahwa khamr telah diharamkan?” Kemudian ada seseorang yang membisiki laki-laki tersebut untuk menjualnya. Maka Rasulullah saw bersabda, “Sesungguhnya Dzat Yang mengharamkan untuk meminumnya juga mengharamkan untuk menjualnya.”.(HR. Muslim)

Selain itu Islam juga memberikan sangsi bagi peminum sebagaimana dalam hadist :  “Bahwasanya Rasulullah SAW telah mendera orang yang meminum khamr dengan dua pelepah tamar empat puluh kali.” (HR. Muslim).

Mengingat hal tersebut, saatnya kaum muslimin di Jogja bangkit untuk menolak keberadaan diskotek. Kita bisa melayangkan keberatan kepada pihak yang berwenang. Mengumpulkan takmir dan organisasi Islam di seluruh Jogja dan meminta untuk menutup hal tersebut. Jika perlu disertai doa jika mereka tidak berani menutupnya,  Allah akan memberikan hidayah pada mereka dan keluarganya. Selain itu kita tidak boleh lengah dan lupa, bahwa tempat hidup terbaik bagi umat Islam adalah dalam sistem Islam itu sendiri. Sampaikan pesan dakwah bahwa kita wajib hidup dalam sistem Islam pada masyarakat. Semoga dengan hal tersebut kesadaran ummat akan berubah dan sistem Islam kembali tegak di muka bumi dengan izin Nya. Wallahu alam bishowab. [igeno]

0 Response to " [ HERAN ] Muslim Jogja Dalam Kepungan Diskotik "

Posting Komentar