Tantangan Pariwisata Halal di Lombok Nusa Tenggara Barat

Lombok merupakan salah satu destinasi wisata yang populer di Indonesia. Keindahan alam serta wisata budayanya menjadi salah satu daya tarik tersendiri bagi wisatawan dalam dan luar negeri. Tak heran jika dari tahun ke tahun pengunjung wisata di Lombok semakin banyak. Hal ini membuka peluang bagi berdirinya banyak usaha yang berhubungan dengan pariwisata. Seperti perhotelan, rental mobil lombok, tour travel Lombok, toko oleh oleh khas lombok dan sebagainya.

Dibalik itu semua, yang menjadi kekhawatiran bagi sebagian pihak adalah makin banyaknya spot wisata yang jauh dari nilai Islam. Padahal lombok dikenal sebagai pulau 1000 masjid. Karena banyaknya masjid, serta kultur Islam yang kental disana. Mulai banyak hotel yang menyediakan bar dengan menu minuman keras, bahkan mulai muncul club-club malam disana. Yang tidak hanya dikunjungi oleh turis luar negeri, namun juga dari dalam negeri.

Sebenarnya, seperti apakah hambatan / tantangan penerapan pariwisata halal di Lombok? Kami mencoba melakukan analisa sederhana terhadap hal tersebut untuk dijadikan bahan pengkajian bersama.

1. Masyarakat Yang Jauh dari Nilai Islam

Meskipun lombok banyak pesantren dan masjid disana. Namun suka tidak suka masyarakat menjadikan Islam sebagai agama mayoritas yang dianut dari sisi ritual ibadah semata. Maka wajar jika kemudian menjadi oportunis saat mendapatkan peluang bisnis usaha minuman keras. Oportunis mau menjadi karyawan di usaha tersebut dan sebagainya. Adanya masyarakat yang jauh dari nilai Islam tidak hanya terjadi di daerah yang maju wisatanya seperti di Lombok. Namun itu sudah menggejala di Indonesia.

Tantangan Pariwisata Halal di Lombok Nusa Tenggara Barat
Masjid Bayan Beleq, Lombok Nusa Tenggara Barat


2. Pemerintah Yang Tidak Menjadikan Islam Sebagai Asas Kebijakan

Meski dipimpin oleh orang Islam. Sama halnya seperti daerah lain di Indonesia. Islam hanya didekati saat akan dilakukan pemilu. Agar bisa menarik simpati umat Islam, namun kemudian saat berkuasa tidak menjalankan aturan Islam. Di Lombok pun seperti itu, meski dari level bupati hingga gubernur adalah muslim. Namun saat menjabat mereka tidak menggunakan aturan Islam sebagai pedoman. Termasuk juga saat menyusun aturan yang berkaitan dengan wisata di Lombok.

3. Kepentingan Pengusaha Nasional bahkan Internasional

Tidak bisa dipungkiri lagi. Kue bisnis pariwisata di Lombok cukup menggoda pengusaha lokal, nasional bahkan internasional. Disana berdiri hotel dari jaringan hotel kelas internasional yang sangat mewah, pun juga ada penginapan kelas ekonomis. Mereka tentu tidak ingin kehilangan kue bisnis wisata lombok yang lezat itu. Mereka khawatir jika sektor wisata diatur sesuai dengan islam maka akan menimbulkan kemerosotan dari segi omzet bisnis mereka. Maka segala upaya coba mereka lakukan termasuk mempengaruhi pembuat kebijakan.

Tentu yang kami maksud wisata halal di Lombok ini hanya sekedar menyediakan makanan dan minuman halal bagi muslim. Namun lebih 'gila' dari pada itu. Yaitu mencakup pengaturan pakaian saat berwisata di pantai bahkan saat snorkeling hingga larangan menjual miras sama sekali, baik pada turis dalam negeri ataupun mancanegara. Karena memang yang kami adopsi hukum soal pengaturan wisata dalam Islam seperti itu. Apakah suatu saat bisa terlaksana? Kami berharap seperti itu bisa tercapai dalam waktu dekat ini. Wallahu alam bishowab.

1 Response to " Tantangan Pariwisata Halal di Lombok Nusa Tenggara Barat "

  1. Betul sekali, wisata halal menjadi harapan dimasa depan. Namun masih terkendala disana dan disini.

    Trrimakasih atas informasienya. Salam kenal dari kami

    BalasHapus