Sejarah Aqiqah Sebelum Kedatangan Nabi

Kelahiran bayi di peringati dengan perayaan dan penyembelihan binatang ternak berupa kambing karena di dalam Islam anak adalah rejeki yang hendaknya keberadaannya selalu disyukuri. Ritual persembahan binatang sebagai bentuk rasa syukur sebenarnya sudah ada sebelum zaman pra Islam. Bahkan agama pagan sendiri juga ada ritual seperti ini meskipun secara teknis pelaksanaannya berbeda.

Sejarah Aqiqah Sebelum Datang Islam

Seperti halnya sejarah ibadah haji, sejarah aqiqah menggambarkan bahwa tradisi itu sudah dilaksanakan sebelum Islam masuk artinya masyarakat jahiliyah sudah melaksanakan aqiqah sebelum Rasulullah memerintahkan. Ada yang berpendapat mungkin tradisi ini berasal dari pengorbanan nabi Ismail ketika mau disembelih dan digantikan domba. Yang jelas keterangannya adalah ritual aqiqah sudah dilaksanakan pada masa jahiliyah meskipun pelaksanaannya berbeda dengan aqiqah saat ini.

Sejarah aqiqah sudah ada sejak jaman jahiliyah seperti hadits riwayat Abu Daud berikut : "Dahulu kami di masa jahiliyah apabila salah seorang di antara kami mempunyai anak, ia menyembelih kambing dan melumuri kepalanya dengan darah kambing itu. Maka, setelah Allah mendatangkan Islam, kami menyembelih kambing, mencukur (menggundul) kepala si bayi, dan melumurinya dengan minyak wangi." (HR Abu Dawud dari Buraidah).

Hadis lain yang menerangkan perkara ini juga ada pada hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Hibban: "Dari Aisyah RA, ia berkata, ‘Dahulu orang-orang pada masa jahiliyah apabila mereka berakikah untuk seorang bayi, mereka melumuri kapas dengan darah akikah, lalu ketika mencukur rambut si bayi mereka melumurkan pada kepalanya’. Maka Nabi SAW bersabda, ‘Gantilah darah itu dengan minyak wangi’.”

Begitulah ritual aqiqah pada masa jahiliyah. Mereka melakukan ritual aqiqah menurut ajaran lelhur kaum jahiliyah sampai Rasulullah datang dan membawa risalah yang benar. Salah satu risalah tersebut adalah tata cara aqiqah yang di syariatkan oleh Allah ta’ala.

Aqiqah Oleh Rasulullah

Setelah Rasulullah datang, syariat aqiqah dirubah sehingga menjadi ritual yang sebagaimana sekarang di laksanakan oleh kaum muslim. Aqiqah juga dilaksanakan oleh Rasulullah atas kelahiran cucu beliau Hasan Dan Husein, sebagaimana diterangkan dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas ra bahwa Rasulullah SAW menyembelih (akikah) untuk Hasan bin Ali bin Abi Thalib dan Husein bin Ali bin Abi Thalib, cucu Nabi SAW, masing-masing satu kambing. Selanjutnya ajaran akikah yang dicontohkan Nabi SAW tersebut diikuti oleh para sahabat, tabiin, tabiit tabiin (generasi setelah tabiin), maupun pada masa-masa berikutnya.

Hukum Aqiqah

Jumhur ulama berpendapat, hukum aqiqah sunah muakkadah. Pendapat ini didasarkan pada sabda Nabi SAW: "Barang siapa di antara kamu ingin bersedekah buat anaknya, bolehlah ia berbuat." (HR Ahmad, Abu Dawud dan an-Nasai). kaum muslimin di dunia Islam rata-rata mengambil pendapat yang ini.

Sedangkan ulama yang mewajibkan mengambil dasar hukumnya dari hadis Rasul SAW yang diriwayatkan oleh Ahmad dan Tirmidzi berikut : “Anak yang baru lahir itu tergadai dengan aqiqahnya yang disembelih pada hari ketujuh dari hari kelahirannya, dan pada hari itu juga hendaklah dicukur rambutnya dan diberi nama." (HR Ahmad dan Tirmidzi).



Ada juga sebagian ulama yang memiliki berpendapat bahwa aqiqah tidak wajib dan tidak pula sunah tetapi tatawwu' atau sukarela. Pendapat ini merujuk hadis Nabi SAW: "Aku tidak suka sembelih-sembelihan (aqiqah). Akan tetapi, barang siapa dianugerahi seorang anak, lalu dia hendak menyembelih hewan untuk anaknya itu, dia dipersilakan melakukannya" (HR al-Baihaki)

Itulah sejarah aqiqah yang dapat ka,i sampaikan, semoga bermanfaat untuk anda. Dan saat ini telah tersedia jasa layanan katering aqiqah yang telah berkembang di berbagai kota besar. Salah satu layanan jasa aqiqah di Jakarta adalah Aqiqah Satu.

0 Response to " Sejarah Aqiqah Sebelum Kedatangan Nabi "

Posting Komentar